Senin, 11 Mei 2026

Stigma Sosial terhadap Perempuan dan Pendidikan: “Perempuan Berpendidikan Tinggi Adalah Kesalahan”

Sisi Lain Kalimat-Kalimat Motivasi dari Perempuan yang Berdiri di Ujung Tanduk.

Oleh: Sri Nur Astri Astuti

Kerap kita temukan di media sosial maupun panggung motivasi, perempuan-perempuan sukses sering hadir dengan kalimat motivasi yang terdengar begitu kuat. Mereka berbicara tentang pentingnya pendidikan, tentang perempuan yang harus mandiri, tentang mimpi yang tidak boleh berhenti hanya karena keadaan. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik kalimat-kalimat motivasi tersebut, ada luka panjang yang disembunyikan rapat-rapat. Ada tangisan, penolakan, pembatasan, dan rasa lelah yang harus ditelan sendirian. Sebab bagi sebagian perempuan, terutama yang lahir dan tumbuh di daerah pelosok, memilih pendidikan tinggi sering kali dianggap sebagai kesalahan.

Perempuan yang ingin sekolah tinggi sering dipandang terlalu berani memiliki mimpi. Mereka tidak hanya berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi atau akses pendidikan, tetapi juga melawan cara pandang publik yang menganggap pendidikan tinggi bukan kebutuhan bagi perempuan. Banyak perempuan tumbuh dengan kalimat-kalimat yang tanpa sadar mematahkan masa depannya sendiri.

“Tidak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ikut suami.”

“Perempuan ujungnya di dapur.”

“Lebih baik cepat menikah daripada ngabisin duit buat kuliah.”

Bagi perempuan yang sedang memperjuangkan pendidikan, kata-kata tersebut perlahan menjadi tekanan. Mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar bertahan dari stigma sosial yang terus membatasi gerak mereka. Perempuan yang ingin sekolah tinggi sering dianggap terlalu berani. Mereka seolah melangkah melawan aturan yang tidak tertulis, bahwa perempuan harus tahu batas.

Terdapat fenomena yang masih dapat ditemukan di banyak lingkungan, pendidikan laki-laki dianggap investasi masa depan, sementara pendidikan perempuan dianggap sesuatu yang berlebihan. Laki-laki didorong untuk mengejar cita-cita setinggi mungkin, perempuan justru diminta memahami batas. Mereka harus belajar menyesuaikan diri, menjaga sikap, dan tidak terlalu tinggi melangkah agar tetap diterima lingkungan. Akibatnya, perjalanan pendidikan perempuan sering berubah menjadi perjuangan mempertahankan diri sendiri.

UNESCO melalui laporan #BreakTheBias tahun 2022 menegaskan bahwa stereotip gender masih menjadi penghalang bagi perempuan dalam pendidikan. Banyak perempuan dibatasi bukan karena tidak mampu, tetapi karena lingkungan sosial sejak awal telah menentukan batas bagi mimpi mereka.

Pada titik tertentu, perempuan mulai merasa bersalah atas mimpinya sendiri. Mereka takut dianggap egois karena ingin melanjutkan pendidikan. Takut dicap terlalu bebas karena memiliki keinginan hidup yang berbeda. Bahkan ada perempuan yang akhirnya memilih mengubur cita-citanya demi memenuhi harapan sosial yang sejak awal tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk mereka tumbuh. Ironisnya, ketika perempuan berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar tinggi, tekanan itu tidak berhenti begitu saja.

Saat seorang perempuan memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah menempuh pendidikan tinggi, publik berkomentar lagi,

“Untuk apa sekolah tinggi kalau akhirnya di dapur juga?”

Seolah pendidikan hanya bernilai ketika menghasilkan pekerjaan dan uang. Seakan perempuan tidak pantas menggunakan ilmunya untuk membangun keluarga dengan cara yang berbeda.

Namun ketika perempuan memilih bekerja dan menggunakan pendidikannya untuk berkarier, komentar lain kembali muncul. Perempuan bekerja dianggap kurang fokus mengurus rumah. Ibu yang memiliki karier sering dicap membuat anak terlantar. Perempuan yang bekerja dianggap melanggar perannya. Pada titik ini, perempuan dipaksa memilih, seolah keduanya tidak mungkin dijalani bersama.

Tidak cukup sampai di situ, yang paling menyakitkan adalah ketika perempuan yang belum menikah juga menjadi bahan penilaian. Ia dianggap terlalu tinggi untuk dijangkau, terlalu pintar untuk diatur, atau membuat laki-laki minder. Dalam logika sosial yang sempit, perempuan yang berpendidikan tinggi justru dipersepsikan sebagai masalah. Ia dianggap terlalu banyak tahu, sulit didekati, sulit diatur dan terlalu berbahaya bagi tatanan yang nyaman bagi sebagian orang. Sehingga ia lebih sering dipandang sebagai ancaman, bukan pencapaian.

Padahal yang sebenarnya ditakuti bukanlah pendidikannya, melainkan keberanian perempuan untuk berpendapat dan menentukan jalannya. Pendidikan membuat perempuan mampu berpikir lebih luas, memahami haknya, dan tidak mudah menerima ketidakadilan begitu saja. Inilah yang sering membuat sebagian masyarakat merasa tidak nyaman.

Pada akhirnya, masyarakat selalu menemukan alasan untuk menyalahkannya. Jika menjadi ibu rumah tangga, pendidikannya dianggap sia-sia. Jika bekerja, ia dianggap melupakan keluarga. Jika belum menikah, ia dianggap terlalu tinggi untuk digapai laki-laki. Bagian paling menyakitkan dari semua ini adalah kenyataan bahwa ketika perempuan memutuskan memulai pendidikan, maka hampir semua pilihan hidupnya setelah itu akan tetap dianggap salah oleh sebagian masyarakat.

Berdasar dari semua tekanan itu, lahirlah kalimat-kalimat motivasi yang sering kita lihat hari ini.

“Perempuan harus mandiri.”

“Jangan takut bermimpi tinggi.”

“Pendidikan akan menyelamatkanmu.”

Kalimat-kalimat itu memang menguatkan, tetapi pada saat yang sama juga menyimpan jejak luka. Kalimat tersebut bukan lahir dari kehidupan yang mudah. Ia lahir dari perempuan-perempuan yang pernah bahkan mungkin masih terus diremehkan dan dibatasi. Padahal pendidikan tidak pernah menjadi kesalahan, yang keliru adalah cara publik memandang perempuan yang berani tumbuh, berpikir, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Menyebut perempuan berpendidikan tinggi sebagai kesalahan, sesungguhnya menunjukkan bahwa yang salah bukan pada perempuan, melainkan pada cara pandang masyarakat yang belum adil.

    Publik harus terlibat dalam pendidikan dengan cara yang lebih nyata. Keluarga perlu berhenti memandang pendidikan perempuan sebagai beban atau ancaman. Orang tua harus memberi ruang bagi anak perempuan untuk bermimpi setinggi mungkin. Masyarakat perlu berhenti menilai perempuan dari status menikah, pilihan kerja, atau cara ia menjalani peran domestik. Sekolah dan lingkungan sosial juga harus menciptakan ruang yang aman, setara, dan bebas stigma agar perempuan dapat belajar tanpa tekanan.

Partisipasi publik dalam pendidikan berarti hadir sebagai pendukung, bukan penghambat. Menghargai pilihan perempuan untuk belajar, bekerja, menikah, atau membangun keluarga dengan caranya sendiri. Memahami bahwa pendidikan perempuan bukan hanya mengangkat satu orang, tetapi juga memperkuat keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.

Pada akhirnya, perempuan berpendidikan tinggi bukanlah kesalahan. Yang perlu diubah adalah stigma sosial yang terus membatasi mereka. Ketika publik ikut mendukung pendidikan perempuan, maka yang lahir bukan hanya perempuan yang cerdas, tetapi juga masyarakat yang adil, lebih dewasa, dan setara.

Pendidikan adalah hak segala bangsa.

Dari perempuan untuk generasi mendatang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

#partisipasisemesta #pendidikanbermutuuntuksemua #lombaartikelhardiknas2026 #masyarakat


Minggu, 29 Juni 2025

Silaturunning JNE Sengkang: Melesat jadi Sehat

 Oleh Tuti

Pelepasan para runners


Lari: Dari Gaya Hidup Menjadi Tren

Sengkang - Beberapa waktu terakhir, lari bukan sekadar olahraga, ia menjelma menjadi ajang eksistensi, wadah silaturahmi lintas hobi, bahkan obat patah hati. Di media sosial, foto-foto jersey komunitas, race pack, hingga medali finisher seolah menjadi simbol kebanggaan baru. Komunitas-komunitas pelari bermunculan dari kota besar hingga pelosok daerah. Tak sedikit pula yang terjun hanya karena fomo tak ingin ketinggalan tren.

Fenomena ini tak bisa diabaikan, ia membentuk ekosistem sosial yang sehat dan solid. Maka ketika JNE Sengkang menghadirkan konsep Silaturunning, saya langsung berpikir: ini langkah cerdas. JNE membaca zeitgeist masyarakat dan menyulapnya menjadi momen berharga yang menggabungkan semangat sehat dan nilai kekeluargaan.

Ulang Tahun ke-34 JNE dan Setahun JNE Sengkang

Tanggal 26 November 2024, JNE genap berusia 34 tahun, usia matang bagi perusahaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun bagi JNE cabang Sengkang, perayaan itu punya makna lebih dalam karena di momen ini juga JNE Sengkang merayakan ulang tahunnya yang pertama.

Letak Kota Sengkang yang berada cukup jauh dari ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, sekitar 7 jam perjalanan dari Kota Makassar, membuat kehadiran layanan logistik seperti JNE sangat berarti. Di tengah segala keterbatasan jarak dan akses, JNE hadir sebagai penghubung yang memperpendek waktu, mempercepat proses, dan memudahkan masyarakat untuk tetap terhubung dengan dunia luar.

Terlebih, Sengkang dikenal sebagai kota sutera, tempat para pengrajin kain tenun sutra atau lipa’ sabbe yang melegenda. Kain-kain cantik hasil karya tangan-tangan terampil ini tidak hanya digunakan di daerah sendiri, tapi juga menjadi primadona di luar Wajo, bahkan hingga ke mancanegara. Peran JNE sangat vital dalam mendukung para pengrajin dan pelaku UMKM lokal agar bisa memasarkan produk mereka secara luas. Kiriman kain sutra dari Sengkang menjadi salah satu denyut ekonomi yang terus bergerak, dan JNE adalah bagian dari denyut itu.

Maka tak heran jika ulang tahun pertama JNE Sengkang disambut dengan antusias. Kehadirannya bukan hanya soal bisnis, tapi tentang pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Sebagai cabang yang masih seumur jagung, JNE Sengkang menunjukkan semangat besar untuk tumbuh bersama masyarakat. Bukan lewat pesta formal, melainkan lewat kegiatan yang merangkul banyak kalangan dengan event lari, dan saya merasa sangat terhormat karena diberi kepercayaan menjadi MC dalam acara tersebut.

Silaturunning: Lari, Silaturahmi, Bertabur Emas

Acara Road to Silaturunning with MBY X JNE berlangsung pada pagi hari, 17 November 2024. Saya sudah bersiap sejak subuh, mempersiapkan skrip, mengatur alur, dan tentu saja menyemangati diri. Saat matahari mulai naik, ratusan pelari dari berbagai komunitas di Sulawesi Selatan berkumpul dengan antusiasme luar biasa.

Lari dimulai dengan semangat di tengah dinginnya suasana pagi, namun kehangatan justru terasa paling kental di luar lintasan; tawa para peserta, sorakan penyemangat, dan keakraban yang terjalin bahkan antarpelari yang baru saja berkenalan.

Tak hanya suasana yang meriah, JNE juga mempersiapkan berbagai hadiah menarik untuk para pelari, mulai dari merchandise hingga hadiah utama berupa dua logam mulia. Namun momen yang paling membekas justru terjadi saat pengundian hadiah utama. Secara mengejutkan, salah satu pemenang adalah owner JNE Sengkang sendiri. Alih-alih menerima hadiah, beliau memilih untuk mengundi ulang dan menyerahkan hadiah tersebut kepada peserta lain yang lebih beruntung. Saya berdiri di atas panggung, menyaksikan sendiri tepuk tangan panjang dan sorak kagum yang mengiringi keputusan itu. Di tengah acara yang penuh semangat, momen itu menjadi bukti bahwa inspirasi bisa hadir lewat tindakan sederhana tapi bermakna.

Tak hanya itu, suasana kian hidup saat Si Joni, maskot ikonik JNE, turut hadir di lintasan sambil membagikan air minum kepada para peserta. Tawa para runners dan antusiasme pelari saat menerima minuman langsung dari Si Joni menjadi penyegar suasana yang tidak terlupakan.

MC event bersama Si Joni

Sebagai MC, saya juga sempat mewawancarai beberapa peserta. Salah satunya mengaku bahwa ia awalnya hanyalah seorang “pelari FOMO” ikut-ikutan tren semata. Namun usai mengikuti Silaturunning, ia merasa terinspirasi untuk mulai berlatih lebih serius dan bahkan berencana membentuk komunitas lari bersama temannya. “Event ini bikin saya sadar bahwa olahraga bisa jadi ruang kumpul yang sehat dan produktif. Saya juga baru tahu kalau di Sengkang sudah ada JNE, dan ternyata mereka bikin gebrakan juga!” ucapnya.

Setelah peluh dan semangat di lintasan, acara berlanjut dengan workshop kewirausahaan yang melibatkan para pelaku UMKM di Sengkang. Di sesi ini, JNE bukan hanya sebagai penyedia jasa pengiriman, tapi sebagai sahabat bisnis yang mendampingi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan produk mereka. Ilmu tentang branding, pengemasan, hingga strategi ekspedisi dibagikan dengan antusias. Sungguh sebuah perayaan ulang tahun yang penuh makna.

Melesat SAT SET, Menginspirasi Tanpa Batas

Sebagai seseorang yang berdiri di atas panggung, menyaksikan jalannya acara dari awal hingga akhir, saya merasa ikut tersentuh. Saya melihat bagaimana sebuah kegiatan sederhana seperti lari bisa menyatukan banyak orang. Saya menyaksikan bagaimana kehadiran JNE bukan hanya dalam bentuk kantor dan paket, tapi juga dalam bentuk harapan, koneksi, dan kolaborasi.

JNE Sengkang menunjukkan bahwa meskipun baru berusia setahun, ia telah menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat. Ia melesat cepat, tak hanya dalam hal layanan, tapi juga dalam membangun relasi sosial.

Dan saya percaya, ketika semangat bergerak dan berbagi terus dihidupkan, tak ada yang tak mungkin. Seperti lari itu sendiri, kita tak harus cepat finish, tapi hanya perlu terus bergerak maju. Dan selama ada JNE yang menemani, perjalanan itu akan terasa lebih dekat.

#JNE #ConnectingHappiness #JNE34SatSet #JNE34Tahun #JNEContentCompetition2025 #JNEInspirasiTanpaBatas

Selasa, 06 Februari 2018

Sastra anak wajo

Kutipan dari long quotes karya Nurfaika

Untuk seluruh anak Indonesia yang masih canggung untuk menulis, bisa baca-baca karya kami nantinya, kunjungi buku kami  *Sastra Anak Wajo* oleh Twinky128 di Wattpad, berikut link autonya https://my.w.tt/UiNb/oY4Ll0LPeK
bisa lewat wattpad ataupun google, jangan lupa follow, vote, and comment

*Dari anak Wajo, untuk seluruh anak Indonesia*

Sastra anak wajo

Kutipan dari long quotes karya Zahratunnufus Dhea Karenina

Untuk seluruh anak Indonesia yang masih canggung untuk menulis, bisa baca-baca karya kami nantinya, kunjungi buku kami  *Sastra Anak Wajo* oleh Twinky128 di Wattpad, berikut link autonya https://my.w.tt/UiNb/oY4Ll0LPeK
bisa lewat wattpad ataupun google, jangan lupa follow, vote, and comment

*Dari anak Wajo, untuk seluruh anak Indonesia*

Sastra anak wajo

Kutipan dari puisi karya Sri Nur Astri Astuti

Untuk seluruh anak Indonesia yang masih canggung untuk menulis, bisa baca-baca karya kami nantinya, kunjungi buku kami  *Sastra Anak Wajo* oleh Twinky128 di Wattpad, berikut link autonya https://my.w.tt/UiNb/oY4Ll0LPeK
bisa lewat wattpad ataupun google, jangan lupa follow, vote, and comment

*Dari anak Wajo, untuk seluruh anak Indonesia*

Sastra anak wajo

Kutipan dari page orientasi buku Sastra anak wajo

Untuk seluruh anak Indonesia yang masih canggung untuk menulis, bisa baca-baca karya kami nantinya, kunjungi buku kami  *Sastra Anak Wajo* oleh Twinky128 di Wattpad, berikut link autonya https://my.w.tt/UiNb/oY4Ll0LPeK
bisa lewat wattpad ataupun google, jangan lupa follow, vote, and comment

*Dari anak Wajo, untuk seluruh anak Indonesia*

Kamis, 28 Desember 2017

Korban Tenggelam di Sungai Walennae, Alamiah atau Faktor Gaib?

Jurnalis : S.N.Astri.A



Potret awal pencarian korban tenggelam

Pammana News, 27 Desember 2017 pukul 07.00 waktu setempat, warga Cempa, Desa Pallawarukka, Kec. Pammana, Kab. Wajo, Sulsel,  digegerkan dengan kabar tenggelamnya seorang gadis di sungai Walennae, tak sedikit suara-suara masyarakat yang tinggal disekitar jembatan gantung mengaku mendengar teriakan histeris dipagi itu.

Beberapa personil dari tim penolong (secara umum), mendirikan tenda di pinggiran sungai untuk menginap disana bersama dengan keluarga dari korban. Dan dihari kedua pukul 16.00 usaha pencarian korban yang tenggelam membuahkan hasil, korban ditemuan meninggal dan sudah setengah mengapung di daerah Tonrong Welado dengan kondisi pakaian masih melekat kecuali celana yang korban gunakan.
Tangis keluarga yang berada di posko pencarian pecah tatkala mendapat kabar bahwa korban telah ditemukan, tak berselang beberapa menit jenazah korban sudah sampai di posko, kemudian diteruskan ke RS. Sengkang


Pada awalnya, kabar tenggelamnya seorang gadis yang diketahui bernama Ani tersebut, beredar luas baik melalui media sosial maupun dari mulut ke mulut dengan penjelasan logis mengenai sebab jatuhnya dari jembatan yaitu karena kondisi jembatan itu sendiri yang sudah memprihatinkan.
Namun lama-kelamaan, insiden jatuhnya gadis asal Pincengpute ini mengubah persepsi masyarakat sekitar tentang sebab terjadinya insiden ini. Terlebih lagi setelah dihadirkannya seorang dukun untuk menyebutkan dimana korban berada.

Ada dua persepsi mistis yang mewarnai pembicaraan masyarakat, yang pertama menurut warga yang masih percaya akan Kafue (kembaran yang terlahir dalam wujud hewan ghaib), dalam kepercayaan masyarakat sekitar, korban di ambil oleh kafue-nya yang tinggal di air yaitu seekor buaya. Persepsi yang kedua yaitu, menurut masyarakat yang sudah lama tinggal di sekitaran jembatan gantung, bahwa jembatan tersebut adalah jembatan tua yang memiliki penghuni ghaib seorang gadis berambut panjang, kemungkinan korban diganggu oleh penghuni jembatan tersebut.

penyebab tenggelamnya Ani yang jatuh dari jembatan gantung, mungkin akan menjadi perbincangan warga sekitar, namun yang pasti warga berharap pemerintah jangan menutup mata akan kondisi jembatan yang menjadi penghubung dua desa tersebut agar insiden seperti ini tidak terjadi lagi.