Sisi Lain Kalimat-Kalimat Motivasi dari Perempuan yang Berdiri di Ujung Tanduk.
Oleh: Sri Nur Astri Astuti
Kerap kita
temukan di media sosial maupun panggung motivasi, perempuan-perempuan sukses
sering hadir dengan kalimat motivasi yang terdengar begitu kuat. Mereka
berbicara tentang pentingnya pendidikan, tentang perempuan yang harus mandiri,
tentang mimpi yang tidak boleh berhenti hanya karena keadaan. Namun, tidak
semua orang memahami bahwa di balik kalimat-kalimat motivasi tersebut, ada luka
panjang yang disembunyikan rapat-rapat. Ada tangisan, penolakan, pembatasan,
dan rasa lelah yang harus ditelan sendirian. Sebab bagi sebagian perempuan,
terutama yang lahir dan tumbuh di daerah pelosok, memilih pendidikan tinggi
sering kali dianggap sebagai kesalahan.
Perempuan yang
ingin sekolah tinggi sering dipandang terlalu berani memiliki mimpi. Mereka
tidak hanya berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi atau akses pendidikan,
tetapi juga melawan cara pandang publik yang menganggap pendidikan tinggi bukan
kebutuhan bagi perempuan. Banyak perempuan tumbuh dengan kalimat-kalimat yang
tanpa sadar mematahkan masa depannya sendiri.
“Tidak usah
sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ikut suami.”
“Perempuan
ujungnya di dapur.”
“Lebih baik
cepat menikah daripada ngabisin duit buat kuliah.”
Bagi perempuan
yang sedang memperjuangkan pendidikan, kata-kata tersebut perlahan menjadi
tekanan. Mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar
bertahan dari stigma sosial yang terus membatasi gerak mereka. Perempuan yang
ingin sekolah tinggi sering dianggap terlalu berani. Mereka seolah melangkah
melawan aturan yang tidak tertulis, bahwa perempuan harus tahu batas.
Terdapat
fenomena yang masih dapat ditemukan di banyak lingkungan, pendidikan laki-laki
dianggap investasi masa depan, sementara pendidikan perempuan dianggap sesuatu
yang berlebihan. Laki-laki didorong untuk mengejar cita-cita setinggi mungkin,
perempuan justru diminta memahami batas. Mereka harus belajar menyesuaikan
diri, menjaga sikap, dan tidak terlalu tinggi melangkah agar tetap diterima
lingkungan. Akibatnya, perjalanan pendidikan perempuan sering berubah menjadi
perjuangan mempertahankan diri sendiri.
UNESCO melalui
laporan #BreakTheBias tahun 2022
menegaskan bahwa stereotip gender masih menjadi penghalang bagi perempuan dalam
pendidikan. Banyak perempuan dibatasi bukan karena tidak mampu, tetapi karena
lingkungan sosial sejak awal telah menentukan batas bagi mimpi mereka.
Pada titik
tertentu, perempuan mulai merasa bersalah atas mimpinya sendiri. Mereka takut
dianggap egois karena ingin melanjutkan pendidikan. Takut dicap terlalu bebas
karena memiliki keinginan hidup yang berbeda. Bahkan ada perempuan yang
akhirnya memilih mengubur cita-citanya demi memenuhi harapan sosial yang sejak
awal tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk mereka tumbuh. Ironisnya,
ketika perempuan berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar tinggi,
tekanan itu tidak berhenti begitu saja.
Saat seorang
perempuan memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah menempuh pendidikan
tinggi, publik berkomentar lagi,
“Untuk apa
sekolah tinggi kalau akhirnya di dapur juga?”
Seolah
pendidikan hanya bernilai ketika menghasilkan pekerjaan dan uang. Seakan
perempuan tidak pantas menggunakan ilmunya untuk membangun keluarga dengan cara
yang berbeda.
Namun ketika
perempuan memilih bekerja dan menggunakan pendidikannya untuk berkarier,
komentar lain kembali muncul. Perempuan bekerja dianggap kurang fokus mengurus
rumah. Ibu yang memiliki karier sering dicap membuat anak terlantar. Perempuan
yang bekerja dianggap melanggar perannya. Pada titik ini, perempuan dipaksa
memilih, seolah keduanya tidak mungkin dijalani bersama.
Tidak cukup
sampai di situ, yang paling menyakitkan adalah ketika perempuan yang belum
menikah juga menjadi bahan penilaian. Ia dianggap terlalu tinggi untuk
dijangkau, terlalu pintar untuk diatur, atau membuat laki-laki minder. Dalam
logika sosial yang sempit, perempuan yang berpendidikan tinggi justru
dipersepsikan sebagai masalah. Ia dianggap terlalu banyak tahu, sulit didekati,
sulit diatur dan terlalu berbahaya bagi tatanan yang nyaman bagi sebagian
orang. Sehingga ia lebih sering dipandang sebagai ancaman, bukan pencapaian.
Padahal yang
sebenarnya ditakuti bukanlah pendidikannya, melainkan keberanian perempuan
untuk berpendapat dan menentukan jalannya. Pendidikan membuat perempuan mampu
berpikir lebih luas, memahami haknya, dan tidak mudah menerima ketidakadilan
begitu saja. Inilah yang sering membuat sebagian masyarakat merasa tidak
nyaman.
Pada akhirnya,
masyarakat selalu menemukan alasan untuk menyalahkannya. Jika menjadi ibu rumah
tangga, pendidikannya dianggap sia-sia. Jika bekerja, ia dianggap melupakan
keluarga. Jika belum menikah, ia dianggap terlalu tinggi untuk digapai
laki-laki. Bagian paling menyakitkan dari semua ini adalah kenyataan bahwa
ketika perempuan memutuskan memulai pendidikan, maka hampir semua pilihan
hidupnya setelah itu akan tetap dianggap salah oleh sebagian masyarakat.
Berdasar dari
semua tekanan itu, lahirlah kalimat-kalimat motivasi yang sering kita lihat
hari ini.
“Perempuan
harus mandiri.”
“Jangan takut
bermimpi tinggi.”
“Pendidikan
akan menyelamatkanmu.”
Kalimat-kalimat
itu memang menguatkan, tetapi pada saat yang sama juga menyimpan jejak luka.
Kalimat tersebut bukan lahir dari kehidupan yang mudah. Ia lahir dari
perempuan-perempuan yang pernah bahkan mungkin masih terus diremehkan dan
dibatasi. Padahal pendidikan tidak pernah menjadi kesalahan, yang keliru adalah
cara publik memandang perempuan yang berani tumbuh, berpikir, dan menentukan
jalan hidupnya sendiri. Menyebut perempuan berpendidikan tinggi sebagai
kesalahan, sesungguhnya menunjukkan bahwa yang salah bukan pada perempuan,
melainkan pada cara pandang masyarakat yang belum adil.
Partisipasi
publik dalam pendidikan berarti hadir sebagai pendukung, bukan penghambat.
Menghargai pilihan perempuan untuk belajar, bekerja, menikah, atau membangun
keluarga dengan caranya sendiri. Memahami bahwa pendidikan perempuan bukan
hanya mengangkat satu orang, tetapi juga memperkuat keluarga, masyarakat, dan
generasi berikutnya.
Pada akhirnya,
perempuan berpendidikan tinggi bukanlah kesalahan. Yang perlu diubah adalah
stigma sosial yang terus membatasi mereka. Ketika publik ikut mendukung
pendidikan perempuan, maka yang lahir bukan hanya perempuan yang cerdas, tetapi
juga masyarakat yang adil, lebih dewasa, dan setara.
#partisipasisemesta
#pendidikanbermutuuntuksemua #lombaartikelhardiknas2026 #masyarakat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar